Bagi bagi Kursi Merupakan Keniscayaan

Sumber Gambar : http://www.blokberita.com

Dalam sebuah sistem pemerintahan, baik itu yang menggunakan sistem demokrasi ataupun lainnya, keberadaan oposisi dan pendukung pemerintahan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari.

Menurut pengertiannya secara umum, oposisi bisa dimaknai sebagai suatu keputusan yang diambil oleh suatu kelompok/koalisi untuk tidak berada di dalam pemerintahan.

Dewasa ini, pihak oposisi biasanya terlahir dari pihak yang dikalahkan saat kompetisi, yakni pemilu. Idelanya, mereka, para oposisi ini memiliki semangat untuk mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah jika dianggap keliru. Tapi banyak juga, pihak yang menilai bahwa oposisi model ini merupakan oposisi dengan sebutan barisan sakit hati.

Pemilihan presiden dan wakil presiden pada tahun 2014 yang lalu misalnya, terdapat satu koalisi yang cukup kuat yakni, Koalisi Merah Putih (KMP) yang dikomandoi oleh ketua Umum partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Di awal pemerintahan Jokowi-Jk, karena kekuatan oposisi yang cukup kuat, membuat presiden cukup sulit bergerak, karena di parlemen pun, pihak oposisi yakni, KMP lah yang menghegemoni. Posisi ini membuat tekanan politik terhadap pemerintah begitu kuat.

Keadaan ini kemudian yang memaksa presiden Jokowi berfikir keras untuk mencari solusi, agar pemerintahannya bisa berjalan. Akhirnya, tawaran kursi pun di keluarkan. Walaupun, hal ini membuat presiden mengingkari janjinya saat kampanye.

Dalam reshuffle jilid II misalnya, Partai Golkar mendapat kursi Menteri Perindustrian yang diisi oleh Airlangga Hartarto, sementara
PAN mendapat kursi MenPAN RB yang diisi oleh Asman Abnur.

Karena memang, akan sangat naif jika hal tersebut, bagi-bagi kursi, tidak dilakukan. Hal ini didasarkan pada begitu banyaknya partai politik yang jika dibiarkan tetap berada di luar membuat situasi politik tidak stabil.

Lalu, bagaimana untuk pilpres 2019 yang kabarnya mempersulit partai-partai kecil dengan Presidential Threshold? Apakah partai besar yang akan tetap menghegemoni, sehingga partai kecil hanya bisa menjadi pendukung dan harus puas dengan jatah kursi seperti menteri, komisaris dll?

Jika skemanya seperti demikian, maka bagi-bagi kursi di dalam sistem demokrasi merupakan keniscayaan. Dan yang tidak kalah penting, jangan percaya jika ada yang berkampanye bahwa, ia tidak akan melakukan bagi-bagi kursi kekuasaan.

Mengutip lagu Tony Q Rastafara yang berjudul Politik, kira-kira begini bunyinya:
"tak ada musuh abadi, tak punya teman sejati, yang ada hanya kepentingan."
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog