Hilmar Farid: Terlalu Mahal untuk Membayar Pertumbuhan Ekonomi yang Hanya Bertumpu Di Daratan

Sumber Gambar : Kemenko Kemaritiman

Keinginan Indonesia sebagai bangsa maritim kembali digelorakan oleh presiden Jokowi pada pidatonya saat  terpilih menjadi presiden pada 20 Oktober lalu dengan mengatakan bahwa kita telah lama menunggu laut. Jokowi menginginkan agar Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Lalu apa keuntungan bagi masyarakat Indonesia jika pemerintah mengembangkan sektor maritim? Apakah sektor maritim lebih menjanjikan dibandingkan dengan sumber daya alam yang berada di darat?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanya tersebut, kita dapat membaca kembali pidato kebudayaan Hilmar Farid yang disampaikan pada 10 November 2014 (sumber : hilmarfarid.com)

Menurutnya, pembangunan ekonomi yang bertumpu di daratan, berhasil membawa Indonesia ke dalam kelompok 16 besar ekonomi dunia. Tapi harga yang harus dibayar oleh masyarakat Indonesia untuk sampai pada posisi itu sangatlah mahal dan boleh jadi tidak seimbang dengan pencapaiannya.

Data antara tahun 2001-2013 pada setiap harinya, ada areal hutan seluas 500 lapangan sepakbola yang dibabat setiap harinya. Akibatnya, banyak terjadi banjir, longsor juga kekeringan. Dalam setiap tahunnya, kita mendengar ribuan orang mengungsi karena banjir di seluruh negeri. Belum lagi yang tewas akibat terkena tanah longsor.

Akibat bencana ini, pada tahun 2012 saja, kerugian yang diderita oleh masyarakat akibat banjir dan longsor mencapai Rp. 30 trilliun atau lebih dari separuh pendapatan dari sektor kehutanan pada tahun yang sama.

Sedangkan saat ini, diperkirakan sebanyak 160 juta orang atau lebih dari 60% penduduk Indonesia bermukim di pesisir. Dengan geografi dan demografi yang seperti itu, potensi Indonesia sebagai negeri maritim memang sangat luar biasa.

Para ahli mengatakan, jika potensi ini, potensi sebagai negara maritim dikelola secara baik maka nilainya bisa mencapai Rp. 3000 triliun pertahunnya. Kegiatan ekonominya akan menyerap lebih dari 40 juta tenaga kerja di berbagai bidang, mulai dari perikanan, pengembangan wilayah pesisir, sampai pada bioteknologi dan transportasi laut. Sungguh luar biasa.

Analisis di atas didasarkan pada luas wilayah lautan Indonesia yang mencapai 3,2 juta kilometer persegi. Dengan panjang pantai Indonesia lebih dari 95.000 kilometer yang membuat Indonesia menjadi negeri dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Belum lagi 17.000 lebih pulau dengan beragam kekayaan alamnya baik yang berada di darat, daerah pesisir maupun lautnya.
Lagi pula, secara historis, bangsa kita adalah bangsa yang memang sudah akrab dengan lautan. Atau juga bisa mempelajari era kejayaan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang mampu memaksimalkan potensi sebagai negara maritim.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog