Jokowi dan Biji Kopi



Sumber Gambar : Kompas.com

 Ketika itu kami sedang duduk-duduk di pelataran pendopo Balai Desa Girimulyo. Pendopo yang tidak begitu luas tapi cukup nyaman untuk sekedar duduk bersandar dan menikmati pemandangan desa. Duduk berjajar dengan bapak-bapak perangkat desa yang ketika itu sedang senggang dari rutinitas pekerjaan. Obrolan mulai mengalir sedikit demi sedikit. Mungkin tinggal satu saja yang kurang saat itu, kopi.

Ya, siapa yang tidak mengenal kopi. Minuman berwarna hitam yang begitu digandrungi oleh masyarakat. Cukup secangkir kecil dengan suguhan aroma dan bulir-bulir sisa kopi yang tidak tergiling secara sempurna. Dan terakhir jangan lupa seni untuk menikmatinya. Jangan tergesa-gesa, luangkan waktu sejenak untuk menikmati aromanya lalu biarkan menjalar di kepala dengan penuh kenikmatan dan setelah itu meminumnya satu tegukan. Ah kopi.

 Masih tentang kopi. Sebagai seorang mahasiswa tidak afdol rasanya kalau tidak pernah meminum kopi. Duduk berjam-jam di pinggir jalan dengan ditemani alunan gitar atau sekali-kali diskusi menjadi ritual wajib yang harus dilakukan. Tak jarang hanya ada 3 gelas kopi tetapi jumlah kami lebih dari 5 orang. Ya, kopi itu menyatukan. Duduk melingkar sambil berbagi tegukan.

Oh iya, aku pernah bertemu sebuah artikel yang juga membahas tentang kopi. Sadar tidak sadar kopi yang kita nikmati saat ini telah di dominasi kopi sachet hasil pabrikan persahaan-perusahaan besar. Hal itu mengindikasi bahwasanya kopi-kopi tradisional mulai terpinggirkan. Lantas di Negara yang juga banyak perkebunan kopi ini, bagaimana nasib para petani kopi ? kalau memproduksi sendiri saja tidak laku, apa yang bisa dilakukan selain menjual murah hasil kopinya ke perusahaan-perusahaan besar ? ah begitulah Indonesia. Negara yang katanya kaya tetapi sebagian besar rakyatnya masih miskin dan melarat. Negara yang katanya kaya tetapi hidup berkalang hutang. Siapa yang harus disalahkan kalau sudah begini ? kalau biasanya aktivis berkata ‘Jokowi antek imperialis’ apakah hal ini menjadi salahnya sepenuhnya ? Bagaimana dengan warisan orang-orang sebelumnya ? pejabat yang meninggalkan hutang atau jeratan lain di akhir periodenya ? oh mungkin maksudnya, Bapak Jokowi jangan lagi melanjutkan kebijakan yang menindas rakyat, jangan terus menggantungkan diri dengan modal-modal penguasa yang semakin menjerat, mengusahakan Indonesia yang berdaulat dan mandiri bebas dari campur tangan penguasa diatas penguasa. Tapi aktivis sudah terlanjur kecewa, setengah periode memerintah bapak malah semakin menindas rakyat. Bapak-bapak kepala rumah tangga menjerit karena pengeluaran listriknya semakin menjerat. Dan ibu-ibu kini masakannya menjadi hambar karena harga garam yang tidak wajar. Bukankah dulu bapak sering blusukan diantara rakyat-rakyat  kecil pak ? tapi mengapa kebijakan bapak justru berpihak kepada mereka yang besar ? memudahkan proses investasi tetapi merumitkan rakyat yang kesusahan.

Ah sepertinya aku terlalu terbawa suasana pagi ini. Bagaimana tidak, sesaat kami sedang mengobrol santai ada bapak-bapak tua yang datang menghampiri. Muka penuh harap dengan senyum polosnya itu. Berbaju hitam tapi kelihatan sekali kalau baju itu sudah terlalu lama dipakai sampai hitamnya menjadi sedikit keabu-abuan. “ Saya mau menawarkan ini pak alat kop untuk meredakan masuk angin. Barangkali bapak-bapak disini tertarik” katanya dengan suara lirih. Dan parahnya tidak ada yang tertarik sama sekali untuk membelinya. Setelahnya, bapak itu memasukkan jajakanya kembali dalam tas lusuhnya sambil berjalan meninggalkan kami. Berjalan menuju ruangan kantor desa yang didalamnya ada beberapa bapak perangkat yang sedang duduk santai di mejanya. Aku terus memandanginya dan menemukan kenyataan bahwa bapak-bapak di dalam juga kurang tertarik untuk membelinya.  Entah bagaimana persaannya saat itu. Berjuang keras menawarkan kesana-kemari hanya untuk mendapatkan sedikit keuntungan guna kelangsungan hidup keluarganya di rumah. Ah berjuang memang tidak mudah, tetapi yang penting semangat berjuang harus selalu ada. Kata kawanku ketika jatuh maka bangkitlah kembali dan ketika gagal maka cobalah kembali.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog