Kapitalisme Dalang Kemacetan Kota Malang

Sumber Gambar : aktual.com

Siapa yang tidak mengenal Kota Malang. Tersohor sebagai kota pendidikan dan kota wisata di seontero Indonesia. Namun siapa sangka Kota Malang saat ini juga bisa dikatakan sebagai kota kemacetan layaknya ibukota Indonesia, yap Jakarta. 

Pada jam jam sibuk, seluruh jalanan kota akan dipenuhi kendaraan kendaraan bermotor lengkap dengan macet panjangnya. Ditambah lagi malang yang dulunya juga disebut Kota Dingin sekarang berubah menjadi Kota 'Panas'. Sehingga setiap hari harus beradu knalpot dengan kendaraan lain dengan sengatan terik matahari ditambah sedikit rasa emosi. 

Begitulah suasana Kota Malang saat ini. Kota Malang yang benar benar malang karena sudah diperkosa kapitalisme ini. Masyarakatnya yang konsumtif ditambah aktifitas ekonomi oleh pemain pemain yang punya uang dan berambisi menguasai negeri. 

Namun tidak hanya macet kali ini. Bahu jalan yang tidak mampu menampung volume kendaraan, kini harus disulap untuk meminimalisir kemacetan ini. Mobil mobil tronton dan pengangkut barang butuh jalan yang lancar dan cepat untuk memastikan kelipatan setiap keuntungan aktifitas ekonominya. Pejabat-pejabat kota juga butuh jalan yang lancar untuk setiap agenda dan kunjungan kunjungan kerjanya. Dan anak anak sekolah juga harus masuk tepat waktu sesuai jadwalnya, serta para buruh dan rakyat miskin kota juga harus buru buru mencari nafkah di sudut sudut kota. 

Ya, jalan yang disulap. Lihat saja di sepanjang Jalan Borobudur menuju Jalan Soekarno Hatta. Pohon  pohon disamping jalan yang biasanya meneduhkan terpaksa harus ditebang untuk sulapan ini. Emperan toko dan ruko juga harus dikurangi, karena jalan harus dilebarkan lagi. Tidak hanya itu, sekarang ini juga sedang dilakukan pembangunan jalan tol Malang - Pandaan untuk memastikan kelancaran distribusi hasil produksi industri, mesin pencari uang para kapitalis. Pembangunan yang masif tapi bukan mutlak untuk kebutuhan masyarakat sendiri. 

Sehingga harapannya macet bisa dikurangi dan aktifitas ekonomi juga bisa berjalan pasti untuk keuntungan pribadi mereka sendiri. Tidak peduli panas akan menjadi karena pohon yang ditebangi, yang penting mereka tidak merugi.

Dan untuk mengurangi kemacetan ini, pemerintah sebenarnya bisa mengendalikan melalui kebijakan yang dikeluarkannya. Mengurangi masuknya produk kendaraan bermotor sekaligus mengatur aktifitas ekonomi agar didominasi usaha anak negeri bukan negeri yang sibuk dengan aktifitas ekonomi orang asing. Sehingga dengan ini juga pasar bebas bisa di minimalisir, bukan maksud menarik diri tetapi sedikit lebih fokus membenahi ekonomi negeri dengan pemanfaatan kekayaan yang di punyai.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog