Ke Jakarta karena Rindu dengan Warteg Itu

Sumber Gambar : bintang.com


Sejak tidak tinggal lagi di Jakarta pasca selesai studi dan memutuskan untuk pulang kampung, ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul dan mendorong untuk kembali berkunjung ke Ibu Kota. Walau sebelum memutuskan untuk berangkat, sempat beberapa kali ditunda karena tipisnya dompet.

Maklum, walaupun menyandang sarjana tidak serta-merta jaminan soal isi dompet, apalagi saat menjadi mahasiswa tidak lihai dalam menjalin komunikasi dengan elit. Karena memang, saat aktif di organisasi mahasiswa dulu, kami dilarang terlalu dekat dengan pejabat. Mereka itu borjuasi, katanya.

Tapi itu bukan alasan utamanya, cuma karena saya tidak suka dengan cara hidup yang monoton, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore bahkan malam jika lembur, setelah itu langsung tidur. Dan sepertinya memang tidak cocok, karena sudah 3 kali saya coba bekerja, tapi kesemuanya tidak lebih dari 2 bulan usianya, setelah itu mengundurkan diri.

Kembali ke topik soal rindu saya terhadap kota Jakarta.

Beberapa hari yang lalu, akhirnya saya sampai di Jakarta dan bertemu dengan teman-teman. Karena sudah cukup lama tidak bertemu, kami pun ngobrol ngalor-ngidul, terutama membahas soal isu kebangkitan PKI yang kembali naik dipermukaan. Bahkan, beberapa hari yang lalu, gedung YLBHI menjadi sasaran dari berkembangnya isu ini.

Akibat serangan ini, beberapa perlengkapan kantor rusak, kaca dibagian depan juga pecah. Namun, Alhamdulillah, banyak kalangan yang sigap membantu baik dari segi dana maupun tenaga. Juga perkembangannya, yang melakukan penyerangan sudah ditangkap dan dijadikan tersangka. Mantap juga polisi-polisi kita, sigap.

Tapi konon kabarnya, dulu, pada masa orde baru, gedung YLBHI merupakan tempat ter-aman bagi para aktivis yang pada saat itu sering melakukan demonstrasi karena menentang rezim orde baru, Soeharto. Karena pemerintahan saat itu, tidak pernah menerobos masuk ke gedung ini. Hebat juga ya gedung YLBHI ini.

Karena saya rasa cukup untuk update informasi yang sedang berkembang ini, saya pun meminta agar teman saya mengganti tema, semisal seperti gimana kabar gebetannya dulu, apakah sekarang sudah berhasil ditaklukkan atau belum. Atau hal lain seperti kabar teman-teman juga kabar ibu kost yang sedikit rewel itu karena kami sering telat bayar sewa kosan.

Setelah semua selesai diceritakan, saya masih merasa ada yang kurang. Seperti belum terobati rasa rindu ini. Akhirnya saya pun mengajak dia untuk keluar sembari mencari makan. Maklum, saya tipe orang yang kalau terlalu banyak berfikir, secara tiba-tiba perut terasa lapar.

Akhirnya, saya pun berlabuh di warteg yang memang biasa tempat saya makan dulu. Soal makanan yang cukup nikmat dan harga terjangkau tentu menjadi pertimbangan, tapi yang paling utama bagi anak kost adalah, bisa di bayar belakangan, alias utang.

Setelah makan selesai, kami pun pulang karena waktu sudah cukup malam, lagi pula paginya saya harus bergegas untuk pulang ke kampung kembali.  Rasa rindu yang terasa belum terobati, tiba-tiba diganti dengan kepuasan. Sambil berbaring di atas kasur saya berfikir, jangan-jangan saya cuma rindu dengan warteg itu. Diancuuuuuukkkk.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog