Kisah Mahasiswa Pekerja

Sumber Gambar : antaranews.com
Mahasiswa merupakan pemuda harapan nusantara. Sekaligus merupakan calon-calon pemimpin masa depan yang akan menggerakkan jalannya pemerintahan dan bertanggungjawab atas berjalannya aktifitas dalam suatu negara. Serta menggantikan generasi yang ada dengan generasi yang baru dengan cara hidup yang berbeda pula dari sebelumnya.

Itulah gambaran idealnya mahasiswa dimasa depan. Namun dalam prosesnya kehidupan mahasiswa juga tidak selalu mulus sampai mendapati gelar sarjananya. Dalam kenyataannya banyak mahasiswa yang terpaksa harus nyambi bekerja di waktu senggang kuliahnya. Hal ini dikarenakan berbagai motif seperti latar belakang ekonomi serta mencari pengalaman karena tuntutan kerja yang semakin tinggi di kehidupan pasca studinya gelar, dan terpenting gelar sarjana juga tidak menjamin kelayakan kehidupan di masa yang akan datang. 

Sekarang ini, carut marut ekonomi juga semakin mengkhawatirkan. Jumlah lapangan kerja yang terbatas tidak mampu menyerap seluruh tenaga kerja yang ada. Dengan ini pula, tingkat kriteria tenaga kerja otomatis akan semakin tinggi dan kompetisi antar tenaga kerja juga akan semakin ketat. Sehingga ketika seseorang kalah bersaing maka bersiap-siaplah untuk menambah jumlah pengangguran yang ada.

Lebih mirisnya, sudah susah payah bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, masih saja harus dihadapkan dengan upah kerja yang murah. Sebuah angka yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan menjadi pekerjanya tetapi tidak mampu membeli hasil produk perusahaan tempatnya bekerja. Tidak heran jika kapitalisme yang berkuasa saat ini cepat atau lambat akan menemui kebuntuannya dalam hal over produksi. Yap, sistem yang menciptakan jurang kehancurannya sendiri.

Seperti kasus di Kota Malang misalnya, terdapat outlet makanan yag lumayan terkenal dan diminati, Ayam Bebek Nelongso namanya. Dari 10 jumlah outletnya yang ada, mayoritas para pekerjanya merupakan mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan diberbagai kampus yang ada di Kota Malang. Disamping melakukan rutinitasnya sebagai mahasiswa mereka harus bekerja 8 jam sehari dengan gaji sebesar sembilan ratus ribu rupiah perbulan. Gaji yang sangat jauh dari nominal UMK Kota Malang yang mencapai angka Rp 2.272.167 . Tingginya jumlah peminat lapangan kerja ini dijadikan kesempatan untuk praktek upah kerja yang murah. Dan sebagai pekerja hanya bisa menerima karena memang tidak ada pilihan lain.

Berbicara peran negara, masalah lapangan kerja dan upah yang layak sudah sepatutnya menjadi perhatian khusus untuk segera dituntaskan. Karena ini merupakan hak warga negara seperti yang termuat di Undang-Undang yang menyatakan bahwa "warga negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak". Sehingga hal ini menjadi jelas, bahwa tidak ada alasan negara untuk berdiam diri dan berpura-pura buta terhadap permasahan lapangan kerja dan upah tidak layak yang ada.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog