Kisah Pejabat Desa dengan Warganya


Sumber Gambar : malangtoday.net. 
Enaknya duduk di kursi pejabat. Sederat sofa empuk diatas panggung lengkap dengan payupan diatasnya. Tidak lupa sajian diatas meja mulai dari cemilan, buah-buahan sekaligus dengan minumannya. Iya, begitulah sedikit gambaran realitas yang terjadi antara pejabat dengan warganya. Pejabatnya duduk manis tanpa kepanasan dengan hidangan lengkap di depan mata sementara warganya harus berpanas-panasan dan berebut tempat untuk bisa menikmati pemandangan yang sama. 

Hari ini Desa Girimulyo mengadakan festival budaya dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia yang ke-72. Yang mana setiap dusun diwajibkan menampilkan minimal satu hiburan untuk memeriahkan acara tersebut. Seluruh warga sangat antusias. Ada yang menampilkan reog ponorogo, ada anoman obong, ada tarian modern, ada teater perjuangan zaman dahulu dan masih banyak lagi. Acara ini berlangsung dari pukul 10.00 pagi pemberangkatan dan berakhir pada pukul 17.00 sore tadi. Bayangkan saja berapa jam para peserta festival ini harus berpanas-panasan dan berjalan sepanjang desa untuk ikut andil dalam acara tersebut. Di garis finish peserta karnaval budaya akan di sambut dengan pejabat-pejabat desa yang duduk manis diatas panggung dengan hadiah lambaian tangan dan souvenir jam dinding yang hanya satu buah jumlahnya sementara regu mereka terdiri dari berpuluh-puluh warga.

Kalian tahu yang lebih menyakitkan ? akan biasa saja ketika itu hanya diikuti oleh anak muda yang memang memiliki kualitas tubuh yang masih kuat. Namun realitasnya dalam acara ini bahkan mulai dari anak anak TK pun hingga orang lansia mereka ikut terlibat. Di depan panggung kehormatan mereka akan menampilkan atraksinya dengan raut muka bangga. Dengan teriakan dimana-mana “Kita Merdeka, Indonesia Merdeka, dan Kita Menang”. Muka yang sumringah dengan sunggingan senyum ikhlas kepada para pejabat yang leha-leha disana. Ah keringat warga seolah menjadi hiburan bagi mereka. Bersusah payah berdandan dengan uniknya hanya untuk mendapatkan senyuman dan lambaian tangan para pejabat itu. Dan kau tahu menyakitkan kedua, merdeka mana yang bapak ibu maksud ? Merdeka yang kenyataanya tidak mampu mensejahterakan ? Kemerdekaan yang kini hanya sebatas nama tapi kebijakan didikte para penguasa diatas penguasa ? Kemerdekaan yang kekayaan alamnya dikuasai justru bukan oleh negara Indonesia ? Kemerdekaan yang warganya harus tidur di kolong-kolong jembatan karena kebutuhan yang semakin tak dapat dijangkau oleh golongan bawah ? kemerdekaan mana yang kalian maksud ? Presiden dengan casing merakyat tapi kebijakannya tidak pro rakyat ? 

Teruntuk para pejabat, lihatlah wajah polos mereka. Seperti ini kah merdeka ?. Janganlah hanya sebuah kata tapi hidup rakyatmu jauh dari kata merdeka. Berikanlah kemerdekaan yang sesungguhnya kepada mereka. Berhentilah berbohong kepada rakyat tentang kemerdekaan yang sesungguhnya. 

Dan terakhir ini juga merupakan tugas kita sebagai pemuda yang berwawasan. Pemuda yang bisa membedakan merdeka yang sejatinya dengan merdeka yang hanya abal-abal. Sudah sepatutnya membuka pikiran masyarakat terhadap realitas sosial yang ada. Membuka setiap mata yang dibutakan oleh ilusi-ilusi pejabat dan segala pencitraanya. Terus menyandingkan diri dengan masyarakat, terus belajar dan berbuat baik kepada mereka yang membutuhkan.



Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog