Konsistensi dan Solusi Ekonom Rizal Ramli


Fluktuasi ekonomi yang terjadi dewasa ini, membuat banyak Negara terutama dunia ketiga seperti indonesia kalang kabut. Bagaimana tidak, jika krisis ekonomi yang sedang berlangsung ini tak juga dapat diselesaikan, tentu akan membuat gejolak di tengah-tengah masyarakat.

Belum lagi, komoditas unggulan seperti karet, sawit dan minyak mentah tidak bisa diandalkan untuk menutupi deficit anggaran seperti saat krisis yang terjadi pada tahun 2008 silam. Apalagi pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilakukan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini yang kemudian membuat pemerintahan jokowi-jk gencar melakukan hutang.

Namun, dari beberapa sumber menjelaskan bahwa hutang yang dilakukan, prioritasnya bukan lah untuk pembangunan infrastruktur tapi untuk membayar hutang. Ini dapat dilihat dari APBN 2017 dengan rangking belanja pada posisi pertama adalah untuk pembayaran bunga, poko dan cicilan utang yang bila dijumlahkan mencapai Rp. 486 trilliun, posisi ke dua ditempati oleh belanja pendidikan sebesar 416 trilliun. Sedangkan posisi ketiga untuk belanja infrastruktur, sebesar Rp. 387,3 trilliun.

Pembayaran bunga utang pun, pada RAPBN-P 2018 mengalami kenaikan jka disbanding dengan RAPBN-P 2017. Pada tahun 2017, nilai total pembayaran bunga utang  sebesar 219,2 trilliun sedangkan untuk tahun 2018 direncanakan sebesar 247,58 trilliun. jika dijumlahkan dengan pokok dan cicilan, kira-kira berjumlah Rp. 648,8. Itu artinya terdapat kenaikan pembayaran bunga utang sebesar 13%.

Ditengah situasi pertumbuhan ekonomi yang sedang tidak baik, apakah tepat jika pajak dijadikan pijakan untuk menambal deficit? Ini dapat dilihat dari RAPBN 2018 yang dirilis oleh menteri keuangan pada Rabu, 16 Agustus 2017 sebagai berikut:

Angaran penerimaan Negara sebesar Rp. 1.878,4 trilliun, yang didapat dari pajak sebesar 1.609,4 trilliun (86%), sumber daya alam (SDA) migas Rp. 77,2 Trilliun (4%) dan SDA non Migas Rp. 22,1 trilliun (1%).

Dari data di atas, kita melihat begitu minimnya pendapatan Negara dari SDA.  Padahal, kita memiliki SDA yang sangat melimpah.

Lalu bagaimana pendapat ekonom Senior Rizal Rami atau yang akrab disapa RR yang juga terkenal dengan sebutan Rajawali Ngepret ini karena gebrakannya saat menduduku kursi menteri  Menko Maritim?

Menurutnya, di tengah situasi ekonomi yang sedang buruk, pajak harusnya lebih diberikan kelonggaran. Karena jika pemerintah secara agresif mengejar penerimaan Negara melalui pajak akan membuat kalangan dunia usaha terganggu. Hal ini berimbas pada tertundanya aktivitas investasi dan menghambat pertumbuhan sektor lainnya.

RR memberikan contoh, di Negara eropa, China dan lainnya,ketika ekonomi melambat, maka pajak dilonggarkan. Dan saat ekonomi sudah bergeliat, dengan sendirinya pajak bisa naik.

Ia pun merekomendasikan agar pemerintah melakukan revaluasi dan sekuritisasi asset aagar ada mesin pertumbuhan yang lain diluar APBN, terutama diluar jawa. Juga konsumsi rumah tangga juga tak boleh luput dari perhatian, karena ini merupakan komponen pemegang setengah dari perekonomian nasional. Itu artinya RR mendorong agar pendapat masyarakat harus meningkat.

Terobosan-terobosan sebelumnya yang dilakukan oleh mantan menteri perekonomian di era presiden gusdur ini mendapatkan hasil yang baik, itu adalah alasan mengapa kami tertarik akan pemikiran ekonomi dari Rizal Ramli. Beberapa terobosan itu misalnya, berhasil  mendongkrak Bank BNI hingga terhindar dari kebangkrutan hanya dalam waktu lima bulan, menyelesaikan permasalahan di bulog dan yang terbaru adalah analisanya prihal maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Walaupun sudah berada di luar pemerintahan, Rizal Ramli tak bosan untuk memberikan terobosan-terobosan dan solusi pada Negara saat mengalami problem khususnya disektor ekonomi.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog