Kujang: Identitas Kesatria Pasundan


Sumber Gambar : Kompasiana.com
Kujang merupakan benda yang pada masanya dijadikan sebagai senjata andalan sekaligus identitas, sebagaimana senjata pada umumnya seperti, Keris, Rencong dan badik. Kujang sangat identik dengan penguasa kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi. Sampai saat ini, kujang masih eksis juga telah menjadi identitas bagi masyarakat sunda.

Kujang berasal dari dua kata; Kudi dan Hyang. Kudi berasal dari bahasa sunda kuno yang bermakna Senjata yang memiliki kesaktian dan Hyang bermakna Dewa. Maka kata kujang memiliki makna kesaktian yang berasal dari Dewa.

Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”. (Wikipedia)

Pada awalnya, Kujang tidak lah berbentuk seperti sekarang ini, karena kujang merupakan alat pertanian yang dipakai oleh masyarakat sunda. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Kemudian Raja Kuda Laelan menginginkan senjata yang mencirikan tanah pasundan. Raja Kuda Laelan sendiri merupakan Penguasa sebelum Prabu Siliwangi. Maka raja kemudian memerintahkan Mpu Windu Supo untuk mendesain senjata yang di inginkannya.

Kujang disempurnakan oleh prabu siliwangi dengan dibentuk ukiran kepala macan pada gagangyna. Konon, hal itu dilakukan sebagai penghormatan pada panglimanya yang telah mampu mengalahkan pasukan bangsa mongol juga berbagai ancaman dari bangsa lain yang ingin menahlukan kerajaan pajajaran.

Kujan sendiri memiliki bentuk yang cukup unik, desainnya mirip dengan bentuk pulau jawa. Konon, bentuk kujang ini merupakan keinginan raja untuk menyatukan semua kerajaan yang ada di pulau jawa.

Di era Prabu Kian Santang, kujang di desain ulang dengan bentuk yang menyerupai huruf Arab, Syin. Ini adalah upaya dari Prabu untuk mengislamkan seluruh masyarakat pasundan. Syin sendiri merupakan huruf awal dari kalimat syahadat.

Sebelumnya, kujang memiliki 3 (Tiga) lubang yang bermakna Trimurti yang memiliki makna tiga aspek ketuhanan yang merujuk pada Brahma, Vishnu, dan Shiva sekaligus mewaikili tiga kerjaan yakni Pengging Wiraradya, Kerajaan Kambang Putih, dan Kerajaan Padjadjaran Makukuhan. Sedangkan di era Prabu Kian Santang, Kujang  memiliki 5 (lima) lubang yang bermakna rukun Islam.

Dalam perkembangannya, senjata Kujang tak lagi dipakai para raja dan kaum bangsawan. Masyarakat awam pun kerap menggunakan Kujang sama seperti para Raja dan bangsawan. Di dalam masyarakat Sunda, Kujang kerap terlihat dipajang sebagai mendekorasi rumah. Bahkan, saat ini kujang dijadikan sebagai identitas pemerintahan Jawa Barat, seperti pada tugu monument di Iya 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog