Mahasiswa, Siapakah Dia ?

Sumber Gambar : news.okezone.com

Berbicara soal peduli terhadap keadaan sosial memang sangat mudah dibandingkan pelaksanaanya. Konsep yang disusun sedemikian rupa  dan seolah akan terlaksana dengan sempurna. Bahkan tak jarang satu konsep saja harus diperdebatkan ratusan kali untuk mencapai kata sepakat. Seoalah-olah konsep ini harus tanpa cacat dan pasti terlaksana. 

Satu dua kali semangat itu masih penuh seperti biasanya. Ketiga kali semangat itu akan berkurang sedikit. Keempat kali berkurang lagi sedikit. Kelima dan begitu seterusnya. Sampai pada akhirnya rasa jenuh akan menyerang, dan emosi akan sangat mudah sekali meluncak dengan porsi semangat yang semakin menipis. Lantas bagaimana kelanjutannya ? konsep hanya akan sekedar menjadi konsep, terlaksana ala kadarnya tanpa ada yang memperdulikannya.

Begitulah kisah kami disini. Mahasiswa konseptor. Sangat pandai dalam mengonsep tetapi sangat buruk dalam hal praktek. Mahasiswa gadungan yang orientasinya hanya pada IPK di selembar kertas. Mahasiswa yang gayanya setinggi langit tapi sosialnya serendah pijakan tanah. Mahasiswa yang nongkrong di mall dan kafe-kafe sementara orang tuanya bersusah payah mencari biaya kuliah. Mahasiswa yang sama sekali jauh dari kata agen of change agen of control dan Iron stock. 

Agen of change, mahasiswa sebagai agen perubahan. Gelar ini tidak serta merta hanya sebatas kata yang menempel pada setiap mahasiswa. Namun dalam hal ini menjadi agen perubahan harus benar-benar dipraktekkan sebagai pembawa perubahan dari keadaan sebelumnya dengan segala keterbasan dan kekurangan menjadi sesuatu hal baru dengan yang lebih baik dengan mengaca segala pengalaman yang telah didapat sebelumnya. Iya, mempelajari pengalaman untuk melakukan hal yang dinggap lebih benar dan sesuai dengan kebutuhan di saat sekarang. Mahasiswa yang pandai mnecari alternative untuk selanjutnya dilakukan solusinya.

Agen of control, mahasiswa sebagai agen pengontrol. Dalam kbbi online pengontrol diartikan sebagai alat yang bertugas untuk mengontrol. Sehingga dalam hal ini mahasiswa memilik tugas untuk mengontrol terkhusus dalam mengontrol gerak negara agar tidak sampai menegasikan fungsi dan tujuan seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya. Jangan sebagai negara yang tinggal nama, tanpa kedigdayaan dan kedaulatan dan hanya menjadi boneka bagi pemegang kepentingan. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa sebagai kaum muda yang terpelajar.

Terakhir, iron stock. Artinya, mahasiswa merupakan calon-calon pemimpin generasi selanjutnya. Pemimpin yang menanggalkan kepentingan pribadi jauh diatas kepentingan bersama. Pemimpin yang memiliki sensitifitas tinggi dan peka terhadap keadaan sosial disekitarnya. Pemimpin yang tidak hanya sekedar bersandar pada ilmu belaka.
Itulah mahasiswa dengan peran melekatnya. Menjadi kaum muda yang kritis namun tetap solutif, seharusnya.

Sore tadi adalah agenda terakhir kami dalam pelaksanaan bimbingan belajar untuk anak-anak desa. Perlu diketahui, semakin lama jumlah anak-anak yang datang semakin berkurang. Persiapan agutusan di sekolah pada akhirnya menjadi kambing hitam. Namun hari ini menjadi satu bukti bahwa setelah kami ke sekolah untuk mengajak adik-adik ke posko, kami mendapati bahwa anak-anak yang biasanya mengikuti bimbingan belajar tidak ada disana. Ini artinya ketidakhadiran anak-anak akhir-akhir ini bukan dikarenakan persiapan agustusan. Dengan mencoba mengevaluasi hal ini dikarenakan mahasiswa kkn yang tidak konsisten dalam melaksanakan program kerja, semangat abal-abal yang hanya penuh di awal. Tidak jarang datang terlambat sehingga adik-adik harus menunggu lama. Belum lagi metode belajar yang begitu-begitu saja dan membosankan. Lagi lagi mahasiswa abal-abal. Mungkin akan berbeda dengan mereka – mahasiswa yang tidak buta dengan realitas. Mahasiswa yang memaknai perjuangan sebagai iman. Mereka yang secara kongkrit turun di desa-desa untuk belajar menjadi mahasiswa yang senantiasa mengamalkan ilmu dan membantu menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat. Mahasiswa yang selalu menghargai setiap perkembangan dalam proses perjuangan. Tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk terus mengembangkan kesadaran masyarakat secara luas agar tidak mudah dibodohi atas nama pemerintah, atas nama majikan atau atas nama atas nama lainnya. Mahasiswa yang semangat perjuangannya takkan pernah padam ditengah-tengah dan rela meluangkan waktunya untuk berbaur dengan masyarakat bukan tempat-tempat mewah.



Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog