Perempuan itu Tangguh




Realita bahwa perempuan termarjinalkan memang tidak dapat dipungkiri dari kenyataan keseharian kita. Kalau dulu perempuan identik dengan ‘dapur-sumur-kasur’, di era sekarang ada ‘perempuan karir’, tapi belum mampu sepenuhnya menggantikan praktek 'dapur-sumur-kasur' yang ada. Walaupun perempuan karir mulai merejalela di perkotaan, namun tidak jarang perempuan 'dapur-sumur-kasur' masih melanggeng di desa-desa yang memang masih terpengaruh budaya patriarki.

Adanya perempuan karir mengindikasikan bahwa, sebutan yang mengidentikan perempuan hanya tentang 'dapur-sumur-kasur' sudah mulai bergeser. Perempuan sudah memiliki ruang gerak yang cukup bebas dalam dunia ekonomi maupun politik. Perlahan namun pasti, perempuan mulai mendapatkan posisi dan derajat yang sama dengan laki-laki.

Hal itu dibuktikan dengan kenaikan Persentase jumlah perempuan Indonesia yang menakhkodai suatu perusahaan dengan menempati urutan teratas di Asia Pasifik dan nomor dua di seluruh dunia. Temuan itu tercantum dalam laporan tahunan “Women in Business” yang dirilis oleh Grant Thornton. Selain itu hasil survei global terhadap 5,500 perusahaan di 36 negara, 46% wanita di Indonesia berhasil berada di pucuk senior kepemimpinan, naik dari angka 36% di tahun 2016 (Sumber : Marketplus.co.id).

Pencapaian perempuan dalam tingkat sejauh ini, tidak bisa dilepaskan dari isu-isu feminis ataupun kesetaraan gender yang tidak pernah henti disuarakan, bahkan sampai saat ini. Tuntutan untuk bisa memiki kesempatan yang sama dengan lelaki dalam bidang ekonomi, politik maupun budaya masih terus disuarakan. Agar tidak hanya di kota-kota saja, melainkan sampai ke pelosok desa, perempuan bisa terbebaskan.

Budaya patriarki yang begitu kuat pada masanya dulu, kini mulai pudar dan hancur seiring dengan perkembangan budaya yang tercipta secara dinamis dari lingkungan sosial. Selain daripada sudah tidak dikehendakinya karena menghambat produktivitas, kenyataan bahwa perempuan memiliki keinginan yang tinggi dan tidak mudah menyerah juga berperan penting atas pencapaian ini.

Terlepas dari itu semua, sejatinya, perempuan memang merupakan sosok yang tangguh. Dalam pandangan perempuan 'dapur-sumur-kasur', perempuan tangguh dimaknai walaupun dalam posisi diberikan tanggung jawab yang berat yang dilekatkan padanya seperti, mengurusi keungan rumah tangga, anak dan suami, ditambah seabrek pekerjaan rumah, tapi semuanya bisa mereka selesaikan.

Perempuan memang mampu mengerjakan beberapa hal dalam sekali aktifitas. Bahkan seorang perempuan yang berkarir sekali pun, mereka tetap menjadi sosok pekerja keras, disamping menyelesaikan aktifitas pekerjaanya, nanun tetap tidak meminggirkan urusan rumah tangga dan kelurga sebagai bagian dari kehidupannya.

Sehingga, sudah selayaknya perempuan tidak boleh dipandang remeh ataupun sebelah mata, apalagi dipandang sebagai manusia kedua. Karena, setiap manusia harus diberikan kebebasan dan kesempatan yang sama diluar daripada unsur biologis baik dari perempuan maupun laki-laki itu sendiri.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog