September, Bulannya Partai Komunis Indonesia


Sumber Gambar : reymatahine.blogspot.com
Hampir setiap tahun, bulan september dijadikan sebagai momentum bagi kalangan tertentu untuk kembali bernostalgia agar masyarakat terus mengingat salah satu partai terbesar di Indonesia pada zamannya yakni, Partai Komunis Indonesia (PKI).

Seperti semua pada umumnya, setiap masalah pasti ada yang pro dan kontra. Begitupun dengan  kasus ini. Kedua kelompok ini akan saling terus berada disisi yang berlawanan. Tapi setidaknya, dalam artikel yang pendek ini akan dituliskan satu contoh untuk masing-masing kelompok sebagai dasar mereka bergerak.

Bagi yang pro, adalah kelompok yang terus menerus menuntut negara agar bertanggung jawab atas dugaan pembunuhan massal yang menimpa kader atau simpatisan PKI. Namun, ada juga yang mengatakan, bahwa yang dibunuh  juga ada yang tidak terlibat dalam Partai ini, jadi korban dari keganasan yang terjadi secara membabi buta waktu itu.

Bagi golongan yang pro, bukan berarti mereka semua adalah kader atau simpatisan PKI. Dalam konteks ini, para golongan pro lebih menekankan pada soal pelanggaran Hak Asasi Manusianya (HAM). Terlebih di era pemerintahan presiden Jokowi-jk dimana saat kampanye dulu, penyelesaian pelanggaran HAM di masa lalu masuk dalam agenda prioritas presiden dalam Nawacita.

Sedangkan kelompok yang masuk dalam kategori kontra, biasanya melakukan penolakan terhadap upaya apapun yang dilakukan oleh pihak yang pro. Karena Partai Komunis Indonesia adalah partai yang berideologi anti tuhan (atheisme) sehingga layak untuk di bumi hanguskan. Alasannya, karena Indonesia adalah negara yang mengakui tuhan (theis) dan mengharuskan rakyatnya untuk menyembah tuhan.

Lalu, apakah benar bahwa setiap individu yang masuk sebagai kader partai atau simpatisan harus beratheis? Sudah banyak tulisan/artikel yang menjelaskan prihal ini, silahkan dicari. Karena dalam artikel ini, tidak akan dibahas soal-soal yang demikian itu.

Setiap bulan September, isu PKI ini akan selalu muncul, walaupun ada juga di bulan-bulan lain. Tapi sepertinya, isu PKI ini kurang gregetnya jika digulirkan bukan pada bulan September. Enggak dapet kemistrinya.

Seperti yang terjadi pada Minggu, 17 September 2017 kemarin yang bertepatan di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta misalnya, saat pihak pro akan menyelenggarakan diskusi terkait tragedi 65, maka dengan sigap pihak yang kontra langsung menyerangnya.

Belum sempat acara digelar, serangan demi serangan sudah dilancarkan agar seminar/diskusi tersebut tidak terealisasi. Bahkan pihak kontra, sampai-sampai menerobos batas waktu yang sudah ditentukan untuk berunjuk rasa. Sampai-sampai pihak kepolisian pun tidak dapat membubarkan seperti saat aksi-aksi para buruh. Itu bukti, bahwa ketika keyakinan sudah tumbuh, maka militansi tumbuh mengirinya.

Namun, akibat hal ini banyak partai yang dirugikan. Bagaimana tidak, jelas-jelas di Indonesia banyak partai politik yang masih ada dan lebih modern, namun mereka lebih memilih untuk tetap menjaga eksistensi dari pada partai yang sudah lama punah. Atau memang karena bulan September adalah bulan miliknya PKI?
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog