Tentang Desa dan Air Mahalnya

Sumber Gambar : erzariani.blogspot.com
Tentang pagi. Masih sangat dingin seperti biasanya. Hanya saja kalau biasanya sinar mentari menyelinap masuk melewati lubang-lubang jendela, hari ini mentari itu enggan menampakkan dirinya. Aku beranjak. Menuju jendela di sudut ruangan. Membuka tirai pelan-pelan dan mendapati sebuah kabut tebal menggelantung di udara. Juga tanaman basah dengan bulir-bulir embun diatasnya. 

Suasana asri di desa ini memang begitu memukau. Jalan-jalan yang masih perawan dari asap dan polusi, di pinggiran jalan berdiri kokoh pohon-pohon menjulang tinggi. Warga desa yang begitu ramah dan saling peduli. Tidak peduli warna kulitmu, agamu, siapa namamu sapaan itu akan tetap ada dengan senyum yang mengalir dengan sendirinya. Bahkan tidak jarang mereka akan memaksa untuk singgah sejenak di rumah dan menikmati hasil masakannya pagi ini. Warga desa yang bahkan dengan jumlah ribuan orang mereka akan saling mengenal. Hal yang sangat membedakan sekali dengan suasana kota. Hidup mandiri yang tetanggapun kadang tidak tahu namanya.

Desa ini memang kelihatan hampir sempurna. Namun sangat menyayangkan sekali ada hal-hal yang sejatinya tidak seharusya terjadi. 

Tanggal 10 Juli 2017 kami tiba disini. Berharap 40 hari kedepan akan menjadi hari yang menyenangkan dan cepat terlewati. Menikmati setiap harinya dengan suguhan suasana pedesaan yang masih begitu asri. Namun harapan itu seketika hilang ketika kami mendapati bahwa desa ini kesulitan air. Bagaimana tidak, setiap harinya kami harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itupun kami hanya boleh satu kali mandi dalam sehari. Menyusuri jalan licin menuju sumber air ketika hendak mencuci. Ah seperti ingin pulang saja rasanya.

Kenyataan kesulitan air harusnya menjadi masalah serius, karena air adalah kebutuhan mutlak untuk aktivitas sehari-hari. Ya, air adalah kehidupan. Menjadi pertanyaan ketika hal ini sudah berlangsung lama dan tidak ada tindakan serius yang dilakukan desa untuk mencoba menyelesaikannya. Lantas apakah penyebabnya ? Ada beberapa pendapat warga tentang hal ini. Pertama, keadaan tanah desa yang mengandung kapur dan juga batu hitam sehingga membuat sumur menjadi hal mustahil untuk bisa menciptakan sumber air. Kedua, desa ini merupakan kawasan dataran tinggi. Ketiga, sumber air yang begitu jauh sehingga warag merasa terbebani karena membutuhkan banyak biaya ketika harus membuat sanyo pribadi. Lalu siapa yang wajib bertanggung jawab atas hal ini ? 

Penjual air. Lucu sekali ketika air menjadi komoditas yang diperjualbelikan. 50000 untuk 2000 liter air, dan itu hanya berlaku sehari untuk kami yang berjumlah 27 orang. Parahnya ketika penjualan kepada warga biasa harga itu lebih mahal yakni 50000 per 1000 liter air. Bayangkan saja berapa keuntungan yang didapat dengan menjual air yang sejatinya air inipun alam yang menyediakan. Beliau bercerita, air ini merupakan hasil dari sumur prbadinya yang tidak jauh dari rumah. Jarang-jarang sumur seperti ini bisa ada. Hanya butuh kedalaman tidak lebih dari 6 meter air ini sudah melimpah ruah. Praktek jual beli air ini tak ubahnya merupakan praktek kapitalisme ditingakatan rendah. Watak yang berusaha mengakumulasikan keuntungan dan juga praktek mengeksploitasinya. Sedangkan di sisi warga, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima saja. Memang, tidak semua warga membeli air ini. Masih ada yang rela bersusah payah ke sumber air dan juga menadah ketika hujan sesekali turun. Namun tetap saja, hal seperti ini seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari para pemegang kekuasaan di desa untuk melaksanakan program pengadaan air desa, biar jangan sampai warga dimanfaatkan mentang-mentang mereka membutuhkan.

Para pemegang kekuasaan di desa. Setiap senin-jumat kami akan bergantian ke Balai Desa untuk membantu pekerjaan disana. Berharap bisa membantu sekaligus belajar, selama disana ternyata hanya dihabiskna untuk duduk-duduk di pendopo dan bermain gadget masing-masing, adapula yang menyalakan leptop untuk menonton film atau sekedar browsing menggunakan jaringan wifi yang bahkan bisa dikatakan sangat lemot. Tidak sekali kami harus menawakan bantuan apa yang bisa dikerjakan, hanya saja memang tidak banyak yang dikerjakan bapak-bapak disana. Setiap harinya hanya mengarsip surat dan juga melayani beberapa warga yang punya keperluan administrasi. Itu sekilas yang terlihat. Entah bagaimana seharusnya mereka menjalankan tanggung jawab ini. Sistem dinasti juga masih sangat kental disini, sehingga kualitas SDM tidak tidak menjadi prioritas untuk bisa menjadi bagian dari pemegang keputusan di desa ini. Hanya bermodalkan bagian dari silsilah keluarga pejabat sebelumnya maka akan sangat mudah untuk masuk dan mewarisi jalannya. Memalsukan istri sebagai persyaratan menjadi pejabat juga menjadi hal lumrah disini. Entah karena negara yang tidak becus mengontrol dan mengawasi atau seperti apa, yang jelas hal ini benar-benar terjadi disini. Lagi lagi ini salah siapa ? mungkin ini kekurangan dari sistem otonomi desa yang dijalankan saat ini. Belum lagi pengetahuan dasar maupun kesadaran untuk menjadi pemimpin yang benar-benar memimpin juga masih sangat minim. Ah entahlah. 









Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog