Tentang Kita



 Aku beranjak menuju ruangan biasanya. Bersandar ditempat duduk langganan dengan pemandangan pohon-pohon tinggi dan hembusan angin yang merembet masuk melalui lubang jendela. Mulai menyiapkan playlist yang dipenuhi lagu-lagu mellow dan kopi di depan mata. 
Aku mulai memikirkanmu. Sesekali memejamkan mata dan mengingat setiap fragmen-fragmen kecil yang pernah kita lalui. Ada kalanya tiba-tiba tersenyum dan ada saatnya juga harus nampak murung. Aku ingat sekali bagaimana pertama kali kita ketemu. Sore hari di taman dekat kampus ketika itu. Berjabat tangan dan memperkenalkan diri secara resmi setelah sebelumnya hanya lewat pesan chating dulu. Ya, berkomunikasi untuk kebutuhan organisasi. Tapi tenang, tidak ada perasaan apapun saat itu. Tidak pula berpikir bahkan berharap untuk bisa bersamamu suatu hari nanti, sama sekali tidak ada. Semua berjalan biasa saja setelahnya. Beberapa hari bersama dengan berbagai agenda keorganisasian seperti tujuan awalnya.

Seperti biasa semua pasti ada batasnya, ya kita berpisah. Aku yang sudah mulai terbiasa dengan ‘ada’ terpaksa harus membiasakan lagi dengan ‘tidak ada’ waktu itu. Tapi ini belum apa-apa. Sampai pada akhirnya komunikasi kita pada akhirnya tetap berlanjut meskipun masih sebatas topik tentang keorganisasian.

Beberapa bulan berlalu. Dan komunikasi itupun juga masih sangat lancar. Sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk bertemu sekali lagi dengan tingkat kedekatan lebih dari pertama kali kita bertemu dulu. Ah aku ingin merahasiakannya dibagian ini dan bagian-bagian selanjutnya. Yang pasti rahasia ini masih dan akan terus terekam jelas di memori otak ku.
Tetapi itu hanya bagian bahagianya, masih ada sisi lain yang dengan mengingantnya saja aku bisa langsung sendu seketika. Bagaimana komunikasi kita yang beberapa hari atau bahkan minggu dan bulan terpaksa harus tidak lancar. Sementara rindu tiba-tiba datang dengan jarak kita yang entah berapa ribu kilonya. Belum lagi ketika pikiranku harus kumat dipenuhi prasangka-prasangka buruk kelakuan mu disana. Tidak jarang harus marah-marah tidak jelas dan tidak peduli bagaimana posisi mu saat itu. Dan lebih menyakitkan lagi ketika aku merasa seperti sama sekali tidak ada gunanya untukmu. Seperti kutipan dibawah ini, tertanggal 21 Februari 2017 pukul 21.35 ketika itu.

Rumah – Sungguh, aku ingin menjadi rumahmu. Rumah yang kemanapun engkau pergi kau akan kembali kepadanya. Rumah yang selayakanya tempat bagimu berkeluh kesah. Tidak harus rumah yang mewah, cukup rumah sederhana tapi mampu menyamankanmu dan membuatmu betah. Ah sudahkah Ta ? Sudah kah kau menemukan ku layaknya rumahmu ?. Iya, pertanyaan ini yang sedikit menggangguku. Aku mencoba menyaimu tentang ini, meskipun tak segamblang seperti yang ada dipikiranku. Entah apa yang membuatku susah mengatakannya kepadamu, yang jelas aku sudah mengusahakannya, Ta. Tidak pernah kah kau menceritakan keluh kesahmu kepada orang lain ? Tidak ingin kah kau memabgi beban mu kepadaku ? Iya Ta, aku tidak pintar, kau ceritakan kepadaku pun aku tidak akan mampu membrikan solusi apapun atas masalahmu. Tapi Ta, apa artiku untukmu ? Bukankah aku dan kamu menjadi kita ? Tak bisakah kau membaginya sedikit saja ? akuingin menjadi sandaran mu Ta, aku ingin. Sungguh aku akan mendengarkan apapun ceritamu. Aku menyayangimu Ta, teramat menyayangimu. Aku rindu” 

Benar, mengingat tulisan ini saja aku masih bisa merasakan bagaimana sakitku saat itu. Dan terpenting detik ini aku masih bisa bersamamu, masih betah dengan harapan-harapan itu, harapan yang sempat ku katakan padamu beberapa hari lalu.

Entah seperti apa pada akhirnya nanti, yang jelas teruslah belajar. Belajarlah jujur, belajarlah lebih memahami, belajarlah lebih sabar, belajarlah lebih percaya, belajarlah berpikir dewasa, belajarlah mengakui kesalahan, belajarlah untuk menghargai dan belajarlah apapun lebih dari biasanya.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog