32 Akademisi Desak Hentikan Operasi Tambang Di Pegunungan Kendeng

Sumber Gambar : Grup WhatsApp
Para akademisi dari sejumlah perguruan tinggi terpanggil dan merespon suara rakyat yang telah berjuang lama mempersoalkan keberadaan tambang di pegunungan Kendeng.

Setelah melalui dua hari proses pembelajaran dengan kunjungan lapangan di Pegunungan Kendeng yaitu di Kabupaten Pati di hari pertama dan Kabupaten Rembang di hari kedua, dan bertukar pikiran melalui *“Kuliah Bersama Rakyat”* dan *“Konferensi Penyelamatan Pegunungan Kendeng”*, maka kami menyampaikan temuan penting, yaitu :

Baca Juga : JMPKK; Delapan PoinPelanggaran Hukum PT Semen Indonesia


  1. Telah terjadi upaya manipulatif terhadap luasan KBAK, yang justru tidak menegaskan keberadaan gua, mata air dan sungai bawah tanah di Pegunungan Kendeng wilayah Pati, sebagaimana di gua Pari dan gua Ronggoboyo;
  2. Telah terjadi dampak sosial ekonomi yang begitu luas sebagaimana terjadi di Pegunungan Kendeng wilayah Rembang. Dampak ini diakibatkan cara pandang yang salah atas penyederhanaan “hubungan manusia dan tanah”  yang hanya digampangkan dengan ganti rugi saja. Sementara hari ini kami menyaksikan kehidupan petani menjadi tersingkir dan pemiskinan sosial-ekonomi terus terjadi;
  3.  Potensi kehancuran terjadi terus bilamana pengrusakan ini terus dibiarkan, apalagi Pemerintah Propinsi Jawa Tengah tidak berpikir sama sekali akibat tambang yang saat ini berlangsung. Proses KLHS yang sedang berlangsung sama sekali tidak dihormati, khususnya pengrusakan yang terus menerus terjadi di lapangan, dimana potensi kerusakan karst akan terjadi dan menghilangkan bukti penting untuk melindungi kelestarian Pegunungan Kendeng;
  4. Apalagi, Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor 99 PK/TUN/2016 yang memerintahkan mencabut Izin Lingkungan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, justru ditafsir dengan kesewenang-wenangan oleh Gubernur Jawa Tengah. Alih-alih patuh atas perintah Mahkamah Agung, justru yang terjadi Gubernur menerbitkan izin lingkungan baru;
  5. Situasi ini melahirkan kerumitan masalah yaitu penghancuran sumberdaya alam yang terus menerus terjadi dan merugikan hak-hak masyarakat setempat.

Atas dasar ini semua, Akademisi yang berkumpul di Rembang, mendesak:

  1. Presiden untuk tegas menghentikan seluruh penambangan oleh pabrik semen dan aktifitas penambangan lain di pegunungan Kendeng. 
  2. Presiden untuk menyelamatkan Pegunungan Kendeng demi keberlangsungan ekologi sekaligus  sosial-ekonomi generasi anak-cucu, yang sesungguhnya tidak akan pernah tergantikan di masa mendatang.
  3. Presiden bersama penyelenggara  negara lainnya untuk berani belajar dari Pegunungan Kendeng dan mencegah sekaligus menata ulang kebijakan sumberdaya alam agar penghancuran sumberdaya alam tidak terulang kembali di tempat yang lain.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog