Asian Games di Mata Soekarno

Sumber Gambar : Republika.co.id

Pada Agustus 2018 mendatang, Indonesia menjadi tuan rumah untuk agenda olahraga terbesar di tingkat Asia yang dilakukan selama empat tahun sekali. Pesta Olahraga Musim Panas Asia 2018, yang secara resmi dikenal sebagai Asian Games XVIII, adalah edisi ke-18 dari acara multi event olahraga regional Asia.

Adapun secara tempat sebagai tuan rumah akan dilaksanakan di dua kota besar seperti Jakarta dan Palembang. Sedangkan seperti Lampung, Jawa Barat, dan Banten sebagai pendukung.

Asian Games XVIII yang akan di selenggarakan pada tahun 2018 ini, direncanakan akan menyelenggarakan 33 cabang olahraga Olimpiade dan 11 cabang olahraga non olimpiade dengan jumlah nomor perlombaan sebanyak 490 nomor, hal ini menjadikan Asian Games kali ini menjadi penyelenggara terbanyak memperlombakan baik cabang olahraga maupun nomor olahraga yang akan di pertandingkan. (Sumber: wikipedia)

Namun siapa sangka jika di masa pemerintahan presiden Soekarno, ia amat tidak menyukai acara Asian Games. Hal itu dapat kita lihat dari pidato-pidatonya.

Seperti dalam pidato pembukaan konferensi di Hotel Indonesia, Presiden Sukarno menjelaskan Ganefo memiliki tujuan politisuntuk menandingi IOC dan kubu imperialisme di dalamnya. Dia tidak menentang idealisme Olimpiade yang dicetuskan Baron de Coubertin (pendiri sistem olimpiade modern) sebagai sarana persatuan, perdamaian, dan persahabatan antarmanusia di seluruh dunia.

“Kami dengan senang hati bergabung ke dalam IOC karena kami sependapat dengan ide yang disampaikan oleh Baron de Coubertin. Tapi apa yang ternyata kami dapatkan dari IOC? Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka sekarang hanyalah sebuah alat imperialisme dan politik! Kami punya pengalaman pahit dengan Asian Games! Bagaimana perasaanmu, komunis Cina! Ketika kamu dikucilkan dari olahraga internasional hanya karena kamu negara komunis? Ketika mereka tidak bersahabat dengan Republik Persatuan Arab, ketika mereka mengucilkan Korea Utara, ketika mereka mengucilkan Vietnam Utara, bukankah itu keputusan politik?” kecam Sukarno.

Bahkan akibat dari sikap keras Indonesia menentang kepesertaan Israel dan Taiwan di Asian Games, maka komite Olympiade Internasional (IOC) mencabut sementara keanggotaan Indonesia dalam organisasi tersebut. Menanggapi keputusan sepihak IOC tersebut, Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia menyatakan keluar dari IOC. Indonesia menganggap organisasi tersebut sebagai perpanjangan tangan dari kepentingan neo-kolonialisme dan imperialisme.

Sambil menegaskan perlunya kelanjutan semangat Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 dan terus memperkuat konsepsinya mengenai Nefo, maka Bung Karno telah menegaskan pentingnya menciptakan asosiasi olahraga yang dibasiskan kepada Nefo. Untuk itu, melalui menteri Olahraga saat itu, Maladi, sebanyak 12 negara telah diundang untuk menghadiri konferensi persiapan pelaksanaan Ganefo di Jakarta, diantarnya: RRT, USSR, Pakistan, Kamboja, Irak, Vietnam utara, dan Mali.

Di dalam forum itu, Indonesia telah menggaris-bawahi arti penting melawan olimpiade internasional yang sejatinya adalah alat imperialisme. “Mereka mengatakan bahwa olahraga harus terpisah dari politik. Tapi, pada kenyataannya, mereka hanya beranggotakan Negara non-komunis, yaitu Negara-negara yang tidak mau melawan neo-kolonialisme dan imperialism…Indonesia mengajukan secara jujur, bahwa olahraga adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan politik. Indonesia mengajukan usulan untuk menggabungkan olahraga dan politik, dan melaksanakan sekarang Games of New Emerging Forces –Ganefor…melawan Oldefo,” demikian disampaikan delegasi Indonesia.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog