Kalimat Takbir sebagai Penegasan Bahwa Semua Manusia itu Sama

Islam adalah agama yang memiliki tujuan untuk menghantarkan umat manusia ke dalam kehidupan yang lebih baik. Semangat ini dapat kita lihat dari sejarah bahwa Nabi Muhammad Saw kerap membebaskan para budak, menolak monopoli dagang. Nabi juga tidak segan-segan membantu siapapun yang mengalami kesulitan terutama seperti fakir miskin dan anak yatim piatu.

Kalimat Takbir sebagai Penegasan Bahwa Semua Manusia itu Sama
Sumber gambar: tehelka.com

Kita pun sering mendengar bahwa dalam Islam, derajat manusia itu sama, yang membedakan hanyalah iman dan taqwa. Islam pun dengan tegas memerintahkan kepada manusia untuk melawan kejahatan. Dan juga menentang bangunan sosial yang didasarkan pada eksploitasi dan ketidakadilan.

Salah satu Pemikir Islam, Asghar Ali Engineer menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang anti terhadap kemapanan, anti terhadap segala bentuk penghisapan karena Islam adalah agama yang memiliki konsep keadilan sosial dan ekonomi melalui pendistribusian secara adil.

Ia pun melanjutkan bahwa dalam Islam, ada kalimat yang memiliki makna sangat mendasar yakni, Allahu Akbar yang memiliki arti, Allah Yang Maha Besar. Menurut Ali, kalimat Takbir ini tidak boleh hanya dianggap sebagai doktrin teologis tentang supremasi Tuhan. Namun menurutnya, harus juga dimaknai sebagai prinsip dalam manusia menjalani kehidupannya.

Dalam Buku Islam dan Teologi Pembebasan, Ali menerangkan bahwa kalimat Takbir adalah sebuah kalimat yang menegaskan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengklaim bahwa dirinya sebagai manusia yang paling superior di antara sesamanya. Itu artinya, tidak ada seorang manusia pun yang dapat menguasai manusia lain, tidak ada seorang manusia pun yang boleh tunduk terhadap manusia lain.

Apalagi jika perbedaan itu didasarkan pada perbedaan warna kulit, suku, ras dan agama. Karena tujuan menciptakan bangsa-bangsa, lanjutnya, tidak lain agar manusia saling mengenal dan belajar untuk saling memahami.

Jika kita merujuk pada apa yang diterangkan oleh Asghar Ali tentang Islam, maka kita menemukan sebuah titik bahwa manusia memiliki hak yang sama, baik secara ekonomi, politik maupun kebudayaan. Singkatnya, terhadap semua hal yang secara hukum tidak melanggar juga tidak merugikan.

Itu artinya, ketika ada manusia yang mengaku dirinya Muslim bahkan negara sekalipun, tidak boleh membiarkan adanya manusia yang hidup dalam kemiskinan baik secara ekonomi, pengetahuan maupun kesehatan. Tidak ada satu pun manusia yang boleh membatasi manusia lain, minimal dalam hal pemenuhan kebutuhan dasarnya sebagai manusia.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog