Kapitalisme Dalang Bencana Alam

Sumber Gambar : SocialTextJurnal.com
Berbicara kapitalisme memang tidak ada habisnya. Inilah akar dari semua permasalahan baik dari segi ekonomi, politik, budaya maupun alam yang kita tinggali ini. permasalahan tersebut tidak akan pernah tuntas selama sistem kapitalisme terus mendominasi dengan  penghisapan manusia dan eksploitasi alam yang menjadi motor penggeraknya.

Dari segi lingkungan, permasalahan pun juga terjadi dimana-mana. Lihat saja di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang suhu udaranya bisa mencapai 26-33° C. hal ini disebabkan akibat banyaknya industri yang bercokol di daerah tersebut. Di Kota Surabaya misalnya, dengan luas daerah 350,5 m2 kota ini memiliki 84 perusahaan besar baik perbankan, penyedia jasa operator, manufaktur, makanan siap saji, maupun ritel (sumber: Wikipedia & Scribd). Dengan banyaknya perusahaan, terkhusus industri memiliki kontribusi yang besar terhadap pencemaran lingkungan. Baik berupa limbah sisa aktifitas perusahaannya maupun dampak lain seperti udara yang tercemari oleh asap dan bahan bahan lain sebagai akibat dari aktifitas produksi. Akibatnya udara menjadi tercemar dengan suhu yang semakin panas dan terlebih lagi cuaca yang menjadi tidak menentu dan sulit diprediksi.

Bukan hanya kualitas udara suhu maupun cuaca, aktifitas kapitalisme juga menimbulkan dampak lain di bidang lingkungan.  Lihat saja bencana kekeringan beberapa waktu lalu yang banyak terjadi di daerah timur wilayah Indonesia. Sampai-sampai warganya yang harus menapaki medan yang susah menuju sumber air untuk memenuhi aktifitas kesehariannya. Kekeringan ini terjadi bukan semata-mata hanya karena cuaca yang memang tidak menentu, melainkan akibat dari intensnya ‘kecelakaan’ kebakaran hutan yang disengaja maupun penebangan kawasan hijau sebagai penyerap alami air hujan. Hal ini berdampak pada wilayah hutan yang musnah, pencemaran udara bagi kesehatan maupun tarnsportasi udara hingga bencana alam yang akan ditimbulkan setelahnya.

Tahun 2017 ini titik kebakaran menurun menjadi 157 titik dari tahun sebelumnya yang berjumlah 1.917 titik seperti yang diungkapkan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Sutopo Purwo Nugroho. Begitupun dengan luas hutan dan lahan terbakar yang menurun dari 438 ribu hektar menjadi 15.983 hektar. Angka ini memang bisa dikatakan sebuah kemajuan bila dibandingkan dengan tahun terdahulu seperti yang diungkapkan oleh Hilmar farid dalam pidato kebudayaanya yang menyatakan bahwa antara tahun 2001-2013 setiap hari setidaknya areal hutan seluas 500 lapangan bola yang habis di babat yang 20% dialihfungsikan menjadi kebun sawit maupun tanaman keras lainnya untuk kepentingan segelintir orang. Sedangkan dari sisi penebangan hutan Dana Lingkungan Hidup, World Wildlife Fund pada Juni 2017 lalu memprediksiskan bahwa Kalimantan akan kehilangan 75% luas wilayah hutannya pada 2020. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat bahwa hutan sangat dibutuhkan sebagai asupan oksigen maupun penyerapan air dan meminimalisir bencana alam.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa dampak yang ditimbulkan akibat aktifitas tersebut tidak secara langsung kita rasakan tetapi berdampak jangka panjang. Dan bencana saat ini tidak terlepas dari aktifitas terdahulu. Akibatnya tidak heran jika sekarang ini Indonesia menjadi langganan bencana seperti banjir tahunan, tanah longsor dan lain sebagainya. Oleh karena itu sudah seharusnya kapitalisme dihancurkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik tanpa ada penindasan maupun eksploitasi alam yang dapat menyebabkan rusaknya bumi kita.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog