Kapitalisme Dalang Kemiskinan



Sore tadi sepulang kuliah saya memutuskan menuju gazebo kampus. Berharap bisa bersantai dengan fasilitas wifi sambil menunggu hujan reda, saya malah mendapati jaringan wifi yang buruk. Kalau biasanya masih bisa menikmati wifi meskipun hanya terbatas satu tab loading, kini wifi tidak bisa digunakan sama sekali. Ah kesal tidak karuan rasanya, setiap semester harus membayar biaya wifi tapi justru seperti ini yang dialami. Saya pun memutuskan menutup leptop dan pulang karena memang hujan sedikit lebih reda dari sebelumnya.


Saya pun berjalan menuju ATM depan kampus, seperti rencana sebelum berangkat kuliah tadi. Mengecek saldo di rekening sembari mengambil selembar 50- ribuan untuk kebutuhan sehari-hari sebagai anak kos. Setelahnya bergegas pulang karena saya harus buru-buru membuka leptop kembali untuk menyelesaikan deadline tulisan hari ini.

Tetapi ternyata langkah saya terhenti lagi. Saya dengan sekitar sepuluh mahasiswa lain terjebak di pelataran gedung rektorat karena hujan yang semakin deras. Berdiri sambil memandangi hujan yang terus membasahi bumi. Dan sesekali duduk berjongkok akibat kaki yang mulai letih.

Sekitar tiga puluh menitan sepertinya tadi. Kemudian datang bapak bapak mengayuh sepeda dengan sebuah rombong kecil di depannya. Memakai baju hitam dan celana hitam yang sudah basah karena ia menerobos hujan. Ia pun menghampiri kami dengan senyum sumringahnya. Membuka rombongnya yang tertutup oleh banner bekas untuk melindungi dari air hujan lalu mulai menawarkan dagangannya. “Bakpao.. Bakpao. Monggo mbak silahkan, masih panas enak di makan cuaca dingin gini”.

Astaga. Saya terbeliak melihat perjuangan bapak itu. Menerobos hujan untuk mendapatkan rezeki demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak peduli basah karena air hujan ditambah dengan kondisi tubuh yang sudah menua. Sebuah pemandangan yang memperihatikan. Diusia tuanya bapak tersebut masih harus bersusah payah mencari uang untuk menutup kebutuhan. Hal ini tidak lepas dari kondisi perekonomian di Indonesia saat ini, yang sudah dikuasai oleh para kapitalis. Persaingan bebas bagi siapa saja tetapi pada akhirnya yang lebih bermodal lah yang menguasai. Akibatnya orang-orang kecil tidak memiliki ruang gerak dan memaksanya menjadi pengangguran. Alih alih bisa mencari kerja dengan gampang, lulusan sarjana saja masih banyak yang mondar-mandir membawa amplop coklat. 

Seperti yang dirilis BPS Februari lalu jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 131,55 juta orang atau naik 3,88 juta orang dibandingkan Februari 2016. Dari jumlah itu, penduduk Indonesia yang bekerja pada Februari 2017 tercatat sebanyak 124,54 juta orang, naik 3,89 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,01 juta orang, hanya berkurang 10 ribu orang (sumber : kumparan.com). Angka 7,01 orang ini tidaklah sedikit meskipun sudah mengalami penurunan. Pemerintah masih harus terus mengupayakan penyediaan lapangan kerja yang layak untuk masyarakat. Menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga negaranya seperti amanat UUD 1945 pasal 27 ayat 2 yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. 

Sementara itu, masih menurut BPS Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk). Angka tersebut bertambah 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan (sumber : bisnis.tempo.co).

Itulah realitas yang terjadi di Negara kita. Negara yang sebenarnya kaya tetapi tidak mampu memakmurkan warga negaranya. Negara agraris dengan tanah yang subur dengan kekayaan alam yang melimpah ruah tetapi lebih banyak dikuasi oleh perseorangan. Dan akibatnya Negara hanya sebatas nama tetapi tidak memiliki adidaya dan warga negaranya pun sengsara karena memang tidak bisa berbuat apa apa.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog