Melihat Pengaruh China pada Budaya Betawi

Sumber Gambar: Elshinta.com
Berbicara suku Betawi, maka fikiran kita akan langsung melancong jauh ke Ibukota, Jakarta. Iya, suku Betawi merupakan penduduk yang umumnya tinggal di Jakarta. Hal itu akan sangat mudah dicerna karena memang secara historis, Betawi atau Batavia merupakan cikal bakal kota metropolitan, Jakarta.

Jika berbicara asal usul kata Betawi, akan banyak versi dan sumber yang berbeda. Namun, kebanyakan para sejarawan Betawi mempercayai bahwa Betawi terinspirasi dari nama sebuah tanaman bernama cassia glauca, atau Wiulingin Betawi alias ketenteng dalam bahasa Betawi.
Baca Juga : Si Pitung Pahlawan dari Tanah Betawi

Namun ada budaya yang terlihat begitu identik dengan budaya dari bangsa china atau yang pada masa lalu terkenal dengan sebutan Tionghoa. Lihat saja dari pakaian adat, pengantin, atau petasan yang digunakan ketika sedang melangsungkan sebuah pesta baik itu saat perkawinan maupun saat sunatan.

Jika kita melihat pada zaman kerajaan, seperti yang diungkapkan oleh Yahya Andi Saputra, sekitar pada abad ke-2 Masehi, Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Penduduk asli Betawi adalah rakyat kerajaan Salakanagara. Pada zaman itu perdagangan dengan Cina telah maju.

Tarumanagara di tepi kali Citarum. Menurut Yahya, ada yang menganggap Tarumanagara yang berdiri pada abad ke-5 Masehi, merupakan kelanjutan kerajaan Salakanagara. Hanya saja ibukota kerajaan dipindahkan dari kaki gunung Salak ke tepi kali Citarum. Penduduk asli Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara.

Namun pada sekitar abad ke-10. Saat terjadi persaingan antara orang Melayu yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan wong Jawa yang tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Cina ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu.

Akhirnya perdamaian pun tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah Barat mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kediri.

Akibat pergaulan yang cukup lama dengan China melalui kerja sama ekonomi melalui perdagangan, sangat logis jika terjadi akulturasi budaya. Karena, pada tahun 432 Salakanagara juga telah mengirim utusan dagang ke Cina.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog