Pandai Itu Bukan Soal Bakat Apalagi Keturunan

Pandai Itu Bukan Soal Bakat Apalagi Keturunan - Sebagai manusia, hidup dalam keadaan yang berkecukupan adalah salah satu keinginan dasarnya. Karena dengan hidup yang berkecukupan, manusia akan bisa lebih berfikir secara produktif. Maksud produktif disini adalah terobosan-trobosan untuk kemajuan peradaban.

Dalam sejarah perkembangan manusia, kita dapat melacak bahwa penemuan-penemuan atau ide-ide baru muncul pada mereka yang memiliki kesempatan untuk berfikir lebih karena didukung oleh longgarnya waktu yang dimiliki. Ini mereka dapatkan karena secara kebutuhan sudah tercukupi.
Pandai Itu Bukan Soal Bakat Apalagi Keturunan
Sumber Gambar : rotasinews.com

Semisal, seorang bos akan bisa lebih fokus berfikir dan memiliki pemikiran-pemikiran lebih maju dibandingkan pekerjanya. Hal ini karena si bos tersebut lebih memiliki waktu yang lebih banyak dibandingkan pekerjanya dalam berfikir. Sedangkan si pekerja sibuk memikirkan hal-hal yang menjadi kebutuhannya dalam waktu dekat.

Kesempatan yang dimiliki oleh segelintir orang inilah yang secara historis menjadi pemacu daripada perkembangan kemajuan kehidupan umat manusia. Namun akibat hanya segelintir orang, membuat setiap penemuan yang didapat menjadi hak eksklusif dari si penemunya.

Akibat dari budaya ini, tidak jarang kita mendengar ketika ada seseorang yang pandai dikatakan bahwa kepandaiannya merupakan keturunan dari orang tuanya. Kita ambil contoh pesepakbola ternama di dunia seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo misalnya, apakah itu keturunan?

Keduanya yang saat ini tengah berada dipuncak kejayaan, merupakan hasil dari pada kerja keras mereka dalam berlatih yang tentunya memiliki metode yang berbeda-beda dalam upayanya mendapatkan kemampuan mengolah si kulit bundar. Tanpa kerja keras dan metode yang tepat, akan sangat sulit mendapatkan hasil yang memuaskan.

Contoh lain adalah Jack Wilshere pemain Arsenal berkebangsaan Inggris. siapa yang meragukan talentanya ketika masih muda dulu, kelihaian dalam memainkan si kulit bundar membuatnya digadang-gadang akan menjadi salah satu pemain hebat di masa depan. Namun buktinya, permainan Wilshere tidak berkembang dan sering duduk di bangku cadangan. Banyak pengamat bola yang menyalahkan Arsene Wenger karena dianggap tidak becus dalam memberikan pelatihan terhadap Wilshere.

Jadi, berbicara soal pandai atau bodohnya seseorang, bukan dikarenakan soal bakat atau tidaknya orang tersebut. Bahkan Einstein yang genius, harus melewati kegagalan ribuan kali saat menemukan lampu. Hal ini membuktikan bahwa ketepatan soal metode, soal ketekunan dan tentunya kesempatan yang sama menjadi hal yang penting.

Maka dapat disimpulkan bahwa Pandai Itu Bukan Soal Bakat Apalagi Keturunan. Karena tidak sedikit para profesor atau orang-orang yang berpengaruh yang berasal dari keluarga yang tidak memiliki prestasi dalam bidangnya.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog