Sumpah Pemuda Adalah Semangat Persatuan Melawan Kolonial

Sumpah Pemuda Adalah Semangat Persatuan Melawan Kolonial - Sumpah Pemuda yang terselenggara pada 28 Oktober 1928 merupakan salah satu momentum sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Sumpah pemuda juga bisa dikatakan sebagai perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang hanya membawa penderitaan bagi rakyat Indonesia.

Kesadaran akan pentingnya persatuan merupakan salah satu tujuan dari sumpah pemuda ini. Hal ini bukan tanpa dasar, mengingat politik pecah belah (Devide et impera) yang sering kali digunakan oleh pihak kolonial untuk melemahkan perlawanan rakyat.

Cara pecah belah ini terbukti sangat efektif untuk tetap menjaga kekuasaan Belanda. Perlawanan yang dilakukan oleh rakyat hanya berskala daerah, etnis dan budaya, sehingga kekuatannya masih mudah ditaklukkan. Seperti perlawanan Cut Nyak Dien di Aceh atau Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa.
Sumpah Pemuda Adalah Semangat Persatuan Melawan Kolonial
Sumber Gambar: pbs.twimg.com

Bersatu Melawan Kolonialisme

Sumpah pemuda merupakan pondasi awal persatuan nasional Indonesia untuk melawan kolonialis Belanda. Sumpah pemuda menginginkan semua rakyat bersatu, jangan lagi ada sekat hanya karena perbedaan suku, daerah, budaya dan juga bahasa.

Semangat persatuan melawan kolinial itu dapat kita lihat dari ikrar sumpah pemuda yakni, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia. ini adalah awal dimana politik Devide et impera mulai terpatahkan. Ini pula menjadi langkah awal untuk mencapai kemerdekaan dengan persatuan yang berlandaskan pada kesamaan nasib.

Bung Karno, dalam sebuah pidatonya saat peringatan Sumpah Pemuda di tahun 1963, menyerukan agar generasi penerus tidak “tidak mewarisi sumpah pemuda,  tapi warisilah api Sumpah Pemuda”. Menurut Bung Karno, “kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir.”

Karena itu, bagi Bung Karno, sumpah pemuda harus diletakkan pada visi: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. Jika demikian, cita-cita sumpah pemuda tidaklah berakhir pada proklamasi kemerdekaan saja, tetapi ia akan terus hidup dan berkobar dalam lokomotif perjuangan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur.

Namun, dewasa ini kita sering kali melihat dan mendengar aksi-aksi yang menjurus pada perpecahan. Pertikaian elit dibawanya ke akar rumput yang mengakibatkan benturan dikalangan rakyat. Padahal pertikaian antar elit belakangan ini tidak lebih hanya sebatas kekuasaan.

Semangat Sumpah Pemuda Saat Ini

Jika melihat secara historis, bagi siapapun yang mengarahkan bangsa ini pada perpecahan, maka mereka itu adalah wajah baru dari kolonial yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan berakibat pada penderitaan rakyat secara luas. Maka penting bagi kita untuk mengetahui dalam setiap situasi yang sedang berkembang.

Lagi pula, untuk apa kita ikut-ikutan dalam pertikaian para elit yang jelas-jelas tidak memiliki agenda untuk kepentingan rakyat. Kesimpulan ini diambil dari keadaan rakyat yang kian hari kian mengalami penderitaan tak ubahnya seperti zaman penjajahan dulu.

Lihat saja sistem kerja saat ini, masih banyak para pekerja/buruh yang tidak mendapatkan upah layak. Status kerja yang tidak jelas, jam kerja yang melebihi ketentuan regulasi. Atau juga penggusuran tanah yang kian massif karena proyek infrastruktur. Akibatnya, daya beli masyarakat turun yang berakibat pula pada lesunya Ekonomi nasional kita.

Cita-cita proklamasi kemerdekaan bukanlah seperti keadaan sekarang ini, cita-cita kemerdekaan secara umum mengandung makna untuk menuju masyarakat yang berkeadilan tanpa pandang bulu. Karena kemerdekaan adalah milik semua manusia, semua rakyat Indonesia. Baik itu merdeka secara ekonomi maupun merdeka secara politik.

Dewasa ini, pemahaman sumpah pemuda adalah semangat persatuan melawan kolonial harus tetap dihidupkan. karena kolonial (penjajah) tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing, hal itu juga dapat dilakukan oleh bangsanya sendiri. 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog