Teori Inflasi dan Perkembangannya di Indonesia


Teori Inflasi dan Perkembangannya di Indonesia - Salah satu permasalahan yang kerap terjadi di dalam siklus perekonomian suatu negara adalah Inflasi. Secara teoritis inflasi didefinisikan sebagai peristiwa dimana semua harga naik dan terjadi terus menerus serta bersifat umum. Akan tetapi kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali jika kenaikan tersebut meluas atau dapat mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya.

Pengukuran Inflasi

Di Indonesia indikator pengukuran tingkat inflasi menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK ini dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat. Sementara penentuan barang dan jasa dalam keranjang IHK dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik yang selajutnya BPS ini akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa disetiap kota.

Sumber Gambar: liputan6.bisnis.com
Jenis-jenis Inflasi
Selain itu di Indonesia berasarkan the Classification of individual consumption by purpose (COICOP) inflasi di kelompokkan menjadi 7 kelompok pengeluaran, antara lain kelompok bahan makanan, makanan jadi minuman dan tembakau, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan dan olah raga serta transportasi dan komunikasi. Selain pengelompokan berdasar COICOP, sekarang ini BPS juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan lain yang dinamakan disagregasi inflasi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan suatu indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat mendasar.

Faktor Terjadinya Inflasi
Inflasi bisa terjadi dikarenakan oleh berbagai faktor, seperti interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal yang meliputi nilai tukar, harga komoditi internasional, dan inflasi mitra dagang serta ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen, bencana alam, faktor harga komoditas pangan domestic maupun internasioanl serta kebijakan pemerintah seperti harga bbm, tarif listrik, angkutan umum dan sebagainya.

Di dalam sebuah negara inflasi harus menjadi fokus yang terus diperhatikan agar tidak sampai terjadi, hal ini dilakukan untuk menciptakan roda dan pertumbuhan ekonomi yang baik dan pada akhirnya bisa mensejahterakan rakyatnya.  Adapun dampak dari inflasi itu sendiri yaitu pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat mengalami penurunan. Kedua, inflasi akan menyebabkan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan dalam menentukan tingkat konsumsi, investasi dan juga produksi. Dan ketiga, tingkat inflasi domestic yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat inflasi negara tetangga akan menjadikan bunga domestic riil menjadi tidak kompetitif yang berimbas pada tekanan nilai rupiah.

Perkembangan Inflasidi Indonesia

Pada September 2017 ini tingkat inflasi Indonesia berada pada angka 3.72% berbeda jauh dengan bulan yang sama tahun lalu yang hanya 3.07%. Sedangkan tingkat inflasi tertinggi pada tahun ini terjadi pada bulan Juni lalu yang mencapai 4.37% yang pada bulan itu terjadi sebagai dampak dari masa liburan, bulan puasa, perayaan idul fitri dan tahun ajaran baru.  Selain bulan Juni, inflasi tinggi kemungkinan juga akan terjadi pada Bulan Desember-Januari karena perayaan natal dan tahun baru serta banjir akibat puncak musim hujan sehingga mengakibatkan gangguan jalur-jalur distribusi di beberapa daerah dan kota dan imbasnya menyebabkan biaya logistic kian tinggi. Ini merupakan puncak inflasi rutinan yang terjadi di Indonesia. peningkatan yang signifikan bisa dideteksi dalam hal belanja makanan dan barang-barang lain seperti baju tas dan sepatu diikuti dengan tindakan menaikkan harga.yang dilakukan oleh pihak penjual.

Adapun kasus inflasi tingkat tinggi yang pernah terjadi di Indonesia yaitu pada pemerintahan SBY tahun 2005 yang lalu akibat dari pengurangan subsidi secara besar-besaran oleh pemerintah dalam hal bahan bakar minyak. Akibat pengurangan subsidi tersebut harga BBM lebih dari dua kali lipatnya dibandingkan harga sebelumnya. Kenaikan BBM yang merupakan kebutuhan urgent masyarakat sontak diikuti kenaikan harga kebutuhan lainnya. Dan imbasnya tingkat inflasi pun mencapai angka 14% keatas.

Pada tahun 2013 harga BBM subsidi kembali dinaikkan sebagai akibat untuk meminimalisir deficit PDB Indonesia agar tidak sampai mencapai 3%. Dan terakhir pada pemerintahan Jokowi kembali menaikkan harga bahan bakar bersubsidi Oktober 2014 lalu. Akibatnya angka inflasi pun tak kunjung turun masih berkisar 8% jauh diatas target pemerintah dan bank Indonesia yang hanya 4%.

Sekarang ini langkah presiden Jokowi juga seolah semakin berani. Bahkan setelah mengahapuskan bahan bakar bersubsidi, tidak berselang waktu lama tarif listrik pun juga kian meninggi. Dengan keadaan ini jangan sampai tingkat inflasi meningkat dan kesejahteraan semakin sulit dijamah masyarakat. Pemerintah harus lebih berhati-hati dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan. Mengutamakan kebutuhan rakyat kebanyakan bukan hanya kepentingan segelintir orang.

Nah demikian pembahasan Teori Inflasi dan Perkembangannya di Indonesia, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog