Tolak Rumah Deret, 8 Warga RW 11 Tamansari Diancam Diculik

Sumber Gambar: kompas.com

Delapan warga RW 11 Kelurahan Tamansari Kota Bandung mendapat ancaman penculikan, Selasa 24 Oktober 2017. Ancaman ini diduga kuat berkaitan dengan perjuangan mereka menolak proyek pembangunan rumah deret Pemerintah Kota (Kota Bandung).

Ancaman penculikan pertama kali didapatkan oleh seorang warga RW 11 Tamansari. Warga yang lain kemudian melakukan verifikasi terhadap informasi ini. Dirasa valid, warga kemudian melakukan evakuasi terhadap warga yang diduga bakal menjadi target.

Ketua RW 11 Tamansari, Rudi Sumaryadi mengatakan, pihaknya mengutuk keras ancaman dan teror penculikan terhadap warga. Warga berhak menyuarakan pendapatnya terkait program pemerintah sebagaimana diatur dalam UUD 19945 pasal 28E ayat (3) UUD 1945. 1945. Rudi menjelaskan, ia mengetahui adanya ancaman penculikan dari seorang warganya.

"Tadi sekitar 11.30-12.00 WIB, ada warga yang sedang berada di depan rumah saya. Tiba-tiba ada lima orang berbadan tegap lewat sambil menunjuk ke rumah saya dan bilang ini nih rumah RW, target (penculikan)," ujar Rudi, Selasa (24/10).

Rudi menambahkan, untuk alasan keamanan, ia tidak bisa membuka identitas warganya yang berpapasan dengan lima orang berbadan tegap itu. Warganya sempat bertanya apa maksud ucapan lima orang tersebut. Namun mereka tidak mengindahkan panggilan warganya tersebut.

"Warga saya tidak mengenal lima orang itu. Dia warga senior, dia pasti tahu kalau orang itu warga sini," jelasnya.

Sebelumnya, lanjut Rudi, warga mendapat intimidasi dari Pemkot Bandung, yakni upaya pengukuran paksa. Pada Senin (23/10) kemarin, pengukuran paksa melibatkan anggota TNI AD.

"Adanya tentara bersama tim ukur, membuat warga ketakutan. Sampai sekarang ada warga yang trauma, tidak berani sendirian di rumah. Kemarin pas pengukuran, rumahnya diketuk oleh tentara. Sampai sekarang dia ketakutan," jelasnya.

Sebelumnya, Warga RW 11 Kelurahan Tamansari menolak rencana pembangunan rumah deret (rudet) yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Rencana pembangunan rumah deret merupakan bentuk perampasan ruang hidup warga.

Warga RW 11 Kelurahan Tamansari telah menempati kawasan ini sejak tahun 1960-an. Warga membangun rumah dengan hasil keringat mereka sendiri. Saat ini, warga hidup dengan tenang dan cukup nyaman di rumah mereka masing-masing.

Hingga pada Juni 2017, Pemerintah Kota (Pemkot) mengundang warga ke Rumah Dinas Walikota Bandung untuk mensosialisasikan pembangunan rumah deret sebagai solusi dari penataan kawasan kumuh di Kota Bandung.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan bahwa program rumah deret merupakan program penataan pemukiman tanpa penggusuran. Namun pada faktanya, program ini merupakan penggusuran gaya baru.

“Kami diminta pindah dari rumah kami. Rumah kami akan dihancurkan lalu akan dibangun rumah deret di atasnya. Lalu kami bisa tinggal di sana kembali sebagai penyewa,” ujar Rudi.

Pemkot Bandung beranggapan, lahan yang kini ditempati warga merupakan milik mereka. Sehingga mereka bebas untuk mengusir warga. Padahal, warga telah menguasai tanah sejak 1960-an. Dan Pemkot Bandung pun tidak pernah bisa menunjukan bukti kepemilikan lahan.

Penataan kawasan kumuh seharusnya didasari oleh kepentingan warga, bukan estetika keindahan semata. Apalagi berdasarkan pesanan pengusaha. Untuk itu warga meminta Pemkot Bandung mencari alternatif lain jika ingin menata pemukiman warga.

Dalam skema rumah deret, warga akan direlokasi ke sejumlah tempat selama masa. Pemkot Bandung tidak bisa seenaknya merelokasi warga RW 11 Kelurahan Tamansari ke Rusun Rancacili. Pemkot seharusnya mempertimbangkan bahwa sumber penghasilan warga berada di sekitar tempat tinggal mereka. Pindah ke rusun yang berjarak kurang lebih 15 kilometer dari tempat tinggal asal menuntut warga mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi ke tempat kerja.

Pemkot harus mempertimbangkan warga yang sumber pencariannya tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat tinggal mereka kini. Pedagang makanan misalnya. Jika mereka pindah ke Rancacili, apakah Pemkot berani menjamin mereka bisa berdagang dengan pendapatan yang sama?

Yang juga bakal menjadi korban dari relokasi ke Rancacili adalah anak-anak. Mereka harus menempuh perjalanan sejauh 30 kilometer untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Orang tua mereka juga harus mengeluarkan uang lebih untuk ongkos anak mereka bersekolah.

“Kami juga menyesalkan Pemkot yang seakan buru-buru dalam mengeksekusi pembebasan lahan tanpa memperhatikan kepentingan dan hak kami. Ancaman akan meratakan rumah jika belum juga mengosongkan rumah tentu sangat menyakiti hati kami,” ungkap Rudi.

Untuk itu, Forum Warga RW 11 Tamansari dengan tegas menolak rencana pembangunan rumah deret. Warga meminta Pemkot Bandung untuk mengkaji ulang program penataan kawasan pemukiman dengan memperhatikan hak-hak warga. (rls)
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog