Rasio Gini dan Ketimpangan Kemiskinan di Indonesia


Rasio Gini dan Ketimpangan Kemiskinan di Indonesia - Rasio Gini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan dalam suatu negara. Rasio ini dikembangkan oleh statistikus Italia, Carrado Gini tahun 1912 dalam karyanya Variabilita mutabilita. Di dalam perhitungannya rasio gini didasarkan pada kurva lorens, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variabel tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili presentase kumulatif penduduk.

Angka perhitungan rasio gini berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Atau dengan kata lain suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai Koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan semakin tidak merata jika nilai Koefisien Gininya makin mendekati satu. Adapaun bidang arsiran menggambarkan besarnya ketimpangan yang terjadi.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,393 pada Maret 2017. Angka ini menurun sebesar 0,001 poin jika dibanding dengan gini rasio pada September 2016 yang sebesar 0,394%. Angka ini terus mengalami penurunan sejak tahun 2015 lalu dan itu artinya terjadi perbaikan pemerataan pengeluaran di Indonesia.

Akan tetapi masih menurut BPS jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang pada Maret 2017. Jumlah tersebut bertambah sekitar 10.000 orang dibanding kondisi September 2016 yang mencapai 27,76 juta orang. Adapaun persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2016 sebesar 7,73 persen atau turun menjadi 7,72 persen pada Maret 2017. Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2016 sebesar 13,96 persen, turun menjadi 13,93 persen pada Maret 2017.

Peningkatan tingkat kemiskinan ini dikarenakan oleh berbagai faktor, terkhusus di desa yang di dominasi oleh sektor pertanian pada bulan Desember-Maret merupakan bulan hujan yang akibatnya berpengaruh pada hasil yang didapatkan oleh para petani. Faktor lain yaitu kondisi inflasi perekonomian Indonesia yang pada Maret 2016 ke Maret 2017 sebesar 3,61 persen. Dan yang tidak kalah penting hal ini disebabkan oleh upah petani, buruh tani maupun buruh bangunan yang rendah dan sangat tidak sebanding dengan tingkat inflasi yang terjadi. Apalagi di desa, lapangan pekerjaan yang ada sangatlah minim, akibatnya mau tidak mau masyarakat desa harus bekerja dengan seadanya dengan gaji murah. Sementara bagi mereka yang ingin  meningkatkan penghasilan otomatis akan memilih jalan untuk mengadu nasib ke kota-kota besar.

Masalah lain yang ada di pedesaan yaitu masih banyak berkuasanya juragan tanah yang mendominasi kepemilikan tanah itu sendiri. Sedangkan mereka yang tidak memiliki tanah hanya bisa menjadi buruh tani lengkap dengan upah murahnya. Secara nasional menurut Mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif, pada tahun 2017 ini sebagian besar aset Indonesia sudah dikuasai oleh asing, yakni sebesar 80 persen dikuasai oleh asing, 13 persen dikuasai konglomerat, sisanya tujuh dibagi untuk 250 juta jiwa. Sedangkan berdasar World Bank  pada Desember 2015 silam, mengungkapkan sebanyak 74 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh 0,2 persen penduduk.

Hal ini seharusnya menjadi lampu merah bagi pemerintah untuk segera ditindaklanjuti agar jangan sampai Indonesia hanya tinggal nama yang bahkan untuk wilayahnya sendiri saja tidak memiliki hak karena sudah dikuasai oleh asing. Apalagi dalam janji kampanye maupun program nawacita land reform menjadi salah satu poin yang menjadi focus pemerintah untuk dilaksanakan dalam rangka mensejahterahkan petani dan menghilangkan penguasaan tanah oleh segelintir orang. Selain itu hal ini juga bisa menjadi salah satu langkah untuk meminimalisir ketimpangan ataupun angka kemiskinan di desa itu sendiri.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog