Saminisme


Saminisme - Saminisme adalah sebuah ajaran yang  dalam perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari tokoh intelektual bernama Raden Kohar yang hidup dimasa penjajahan kolonial Belanda. Dia lahir 1859 di Ploso, Kedhiren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah.

Secara garis keturunan, Raden Kohar merupakan putra dari Raden Surawijaya, atau yang oleh masyarakat Sedulur Sikep disebut Samin Sepuh. Raden Kohar memiliki hubungan darah dengan Kiai Keti tokoh dari Rajegwesi, Bojonegoro, Jawa Timur) dan Pangeran Kusumoningayu, penguasa daerah Sumoroto, kini Kabupaten Tulungagung.

Kisah Raden Kohar yang oleh pengikutnya dipanggil Kiai Samin, dalam pergerakannya mirip seperti Robin Hood di Inggris atau Si Pitung Dari Tanah Betawi. Samin seringkali mengajak para perampok untuk merampok harta orang-orang kaya, dan hasil rampokannya dibagikan kepada orang-orang miskin.
Saminisme
Sumber Gambar: liputan6.com

Tahun 1890, Kiai Samin mulai menyebarkan ajarannya kepada rakyat di Klopodhuwur, Blora, Jawa Tengah. Hanya dalam waktu singkat, Kiai Samin sudah memiliki banyak pengikut, seluruhnya adalah petani miskin. Ciri khas dari pengikut ajaran ini adalah, mereka tidak mau membayar pajak pada Belanda.

Belanda pun mulai resah dengan pergerakan yang dilakukan oleh Kiai  Samin. Akhirnya pada tahun 1907, Samin Surosentiko dan delapan pengikutnya ditangkap Asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo. Mereka kemudian dibuang ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Ikut disita kitab suci Wong Samin bernama Jamus Kalimasada. Hingga akhirnya Kiai Samin meninggal 1914.

Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (1919) diterangkan, orang Samin seluruhnya berjumlah 2.300 orang (menurut Darmo Subekti dalam makalah Tradisi Lisan Pergerakan Samin, Legitimasi Arus Bawah Menentang Penjajah, (1999), jumlahnya 2.305 keluarga sampai tahun 1917, tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen, dan Grobogan) dan yang terbanyak di Tapelan.

Dua tempat penting dalam pergerakan Samin adalah Desa Klopodhuwur di Blora dan Desa Tapelan di Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, yang memiliki jumlah terbanyak pengikut Samin. Mengutip karya Harry J. Benda dan Lance Castles (1960), orang Samin di Tapelan memeluk saminisme sejak tahun 1890.

Ajaran saminisme memiliki lima prinsip untuk meneguhkan perjuangannya melawan kolonial Belanda yakni, tidak bersekolah (karena sekolah Belanda), Tidak memakai Peci Tapi menggunakan ikat kepala seperti orang Jawa dahulu, Tidak Poligami, Tidak Berdagang karena mengandung ketidak jujuran seperti Kapitalisme.

Bagi pengikut samin, Agama adalah senjata atau pegangan hidup. tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama lain. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang. Bersikap sabar, jangan sombong dan hidup sederhana.

Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati.

Tiga unsur gerakan saminisme adalah sebagai berikut;

pertama, gerakan yang mirip organisasi proletariat kuno yang menentang system feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung; kedua, gerakan yang bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok; dan ketiga, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaganya untuk membantu kolonial.

Gerakan terbaru dari pengikut samin atau juga yang akrab disapa dengan sedulur sikep adalah penolakan terhadap pembangunan pabrik PT. Semen Indonesia. Militansi para sedulur sikep ini sudah tidak diragukan lagi. Perjuangan yang begitu panjang diakhiri dengan kemenangan hingga pabrik semen tidak dapat beroperasi lagi.

Saminisme atau yang dikenal juga dengan nama sedulur sikep yang tergabung dalam aliansi Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) memiliki alasan mengapa menolak berdirinya pabrik semen di daerah pegunungan kendeng. alasannya adalah karena soal kerusakan lingkungan seperti, menyebabkan sawah-sawah warga rusak, sumber air bisa kering dan yang tidak kalah penting adalah kulaitas udara yang buruk jika pabrik semen sampai berdiri.

Baca Juga: JM-PPK; Delapan Poin Pelanggaran Hukum PT.Semen Indonesia

                   JM-PPK; Hentingan Penambangan dan Eksploitasi Lingkungan Pegunungan Kendeng

                   MA Tolak Pengajuan PK PT.Semen Indonesia

                   32 Akademisi Desak Hentikan Operasi Tambang di Pegunungan Kendeng

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Setiap komentar yang anda tulis, bukan merupakan tanggung jawab kami.

Arsip Blog